Eramet Berencana Untuk Berinvestasi Dalam Nikel Untuk Produksi Baterai Kendaraan Listrik, Bekerja Sama Dengan Danantara

Kamis, 06 Maret 2025

    Bagikan:
Penulis: Samuel Irvanda
(Sumber ekon.go.id)

Perusahaan Prancis, Eramet, mengumumkan rencananya untuk berinvestasi dalam proyek hilirisasi nikel yang ditujukan untuk baterai kendaraan listrik (EV), bekerja sama dengan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).

"Eramet menunjukkan minat untuk meningkatkan investasi di Indonesia dengan mitra lokal dalam sektor mineral kritis. Perusahaan ini juga berupaya menemukan peluang investasi, khususnya dalam hilirisasi bersama BPI Danantara," ungkap Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam keterangan resmi pada Selasa (4/3/2025).

Airlangga menambahkan bahwa Eramet telah beberapa kali menegaskan komitmennya kepada pemerintah Indonesia untuk mendukung hilirisasi nikel dan produksi baterai EV, terutama di Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara.

Pemerintah Indonesia memberikan sambutan positif terhadap usulan tersebut sebagai upaya untuk mempercepat transisi energi di tanah air. 

"Untuk memastikan komitmen terhadap industri ramah lingkungan, lokasi industri yang dimaksud akan ditempatkan dekat dengan sumber energi hidro, sehingga dapat menjamin penggunaan energi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan," kata Airlangga.

Airlangga menekankan bahwa kerjasama antara Indonesia dan Eramet dapat menciptakan kemitraan yang solid dalam mempercepat transisi menuju industri hijau di Indonesia serta mendukung rantai pasokan global.

“Kerjasama antara Indonesia dan Eramet memiliki peluang yang signifikan untuk mendorong inovasi, memperkuat sektor nikel dan baterai kendaraan listrik, serta memberikan keuntungan jangka panjang bagi kedua belah pihak,” ujar Airlangga.

Informasi Cadangan

CEO Eramet, Christel Bories, mengungkapkan bahwa saat ini Eramet masih memerlukan data terkait ketersediaan bahan baku yang diperlukan untuk mendukung proses produksi di Indonesia.

Sebagai langkah lanjutan, Airlangga dan Christel Bories sepakat untuk menyusun peta jalan serta estimasi kapasitas produksi. Hal ini akan menjadi pertimbangan bagi pemerintah Indonesia dalam memberikan dukungan kepada Eramet sebagai bagian dari pengembangan ekosistem nikel di tanah air.

Direktur Eramet Indonesia, Bruno Faour, sebelumnya menyatakan bahwa Eramet telah mengambil keputusan untuk berupaya mematuhi standar Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA), yang diakui sebagai standar tertinggi dalam industri pertambangan global.

Pada bulan Juli tahun lalu, Eramet sedang dalam tahap untuk memenuhi standar IRMA untuk pertambangan PT Weda Bay Nickel, yang merupakan perusahaan patungan antara Eramet, Tsingshan Group, dan PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) atau Antam.

Dengan adanya niat dari pemerintah serta dukungan dari sejumlah perusahaan besar seperti Eramet, saya merasa optimis mengenai kemampuan Indonesia dalam menghadapi tantangan ini, ujar Faour dalam wawancara dengan Bloomberg Technoz.

(Samuel Irvanda)

Baca Juga: Bahlil Terapkan Standar Berkelanjutan Untuk Sektor Pertambangan Indonesia
Tag

    Bagikan:

Berikan komentar
Komentar menjadi tanggung-jawab Anda sesuai UU ITE.