Sinergi MBG Dan Inisiatif Karakter Generasi Emas Indonesia 2045

Kamis, 24 Juli 2025

    Bagikan:
Penulis: Chairil Khalis
(ANTARA/Moh Salam/am)

Setiap tanggal 23 Juli, kita merayakan Hari Anak Nasional sebagai momen yang selalu mengingatkan kita bahwa anak-anak adalah pilar masa depan bangsa.

Pada tahun 2025 ini, tema "Anak Hebat Menuju Indonesia Emas 2045" menjadi sangat penting karena Indonesia sedang mengalami bonus demografi, dengan proporsi penduduk produktif yang tinggi. Namun, bonus ini hanya akan benar-benar menjadi emas jika kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) kita benar-benar kuat dalam aspek kesehatan, kecerdasan, dan karakter.

Peluncuran program MBG dan Gerakan Karakter oleh pemerintah merupakan dua program strategis yang diharapkan dapat menjadi katalisator bagi peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di masa depan.

Program MBG yang diinisiasi oleh Badan Gizi Nasional bertujuan untuk menyediakan makanan sehat dan bergizi di sekolah sebagai bentuk subsidi gizi dan pendidikan praktik hidup sehat. Selain meningkatkan status gizi anak, MBG juga dapat berfungsi sebagai fasilitas mediasi untuk pendidikan karakter: berdoa sebelum makan, disiplin waktu, menjaga kebersihan bersama, hingga tanggung jawab dalam menyiapkan dan menghabiskan makanan dalam konsep Zero Waste.

Sementara itu, Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat diluncurkan oleh Kemendikdasmen pada akhir tahun 2024 dan panduannya dirilis pada bulan April 2025. Program ini bertujuan untuk menanamkan tujuh kebiasaan positif sejak dini, di antaranya bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, berinteraksi dalam masyarakat, dan tidur tepat waktu. Program pembiasaan ini bertujuan untuk membentuk anak yang seimbang secara intelektual, sosial, spiritual, dan fisik, yang menjadi fondasi karakter menuju visi Indonesia Emas 2045.

Dari dua program pemerintah tersebut terdapat Titik Temu Sinergis di mana MBG berfungsi sebagai Wahana Implementasi Gerakan Karakter, khususnya pada program kebiasaan ke-4 ("Makan sehat dan bergizi") yang merupakan pilar utama dari kedua program tersebut. MBG menyediakan makanan yang sehat, sementara Gerakan Karakter memberikan konteks pembiasaan serta nilai-nilai moral.

MBG menjadi praktik nyata di sekolah untuk mengajak anak-anak berdoa sebelum makan, yang sesuai dengan nilai religius (kebiasaan beribadah); mengatur waktu makan secara disiplin yang sejalan dengan kebiasaan bangun pagi dan tidur tepat waktu; mengelola kebersihan alat makan dan ruang makan yang berkaitan dengan nilai tanggung jawab dan kepedulian terhadap lingkungan; serta makan bersama yang dapat membangun empati dan solidaritas sosial yang sejalan dengan pembiasaan bermasyarakat.

Menurut Mendikdasmen, MBG bukan hanya sekadar penyedia makanan, tetapi juga merupakan bagian integral dari pendidikan karakter melalui proses makan yang bermakna.

Dalam usaha untuk menyinergikan kedua program tersebut, beberapa langkah konkret dapat diambil secara operasional untuk memperkuat integrasi.

Pertama, mengintegrasikan Kurikulum Karakter dan Pangan. Sekolah menyusun jadwal "Makan Bergizi Bersama" yang terintegrasi dengan aktivitas "Pagi Ceria", senam pagi, doa bersama, dan mini-kelas edukasi gizi.

Kedua, memberikan Pelatihan kepada Guru dan Relawan MBG. Pelatihan MBG mencakup aspek sanitasi, gizi, serta pendekatan karakter, seperti cara menyampaikan nilai kepada anak saat membagikan makanan.

Ketiga, melibatkan Orang Tua dan Komunitas dalam program. Orang tua diberikan panduan buku Gerakan 7 Kebiasaan, yang memungkinkan adanya kontinuitas antara rumah dan sekolah.

Keempat, monitoring dan Evaluasi Karakter. Penilaian berbasis kebiasaan positif seperti kedisiplinan, kebersihan, kerjasama, dan motivasi belajar dievaluasi secara rutin sebagai indikator keberhasilan generasi berkarakter.

Dengan adanya langkah-langkah tersebut, diharapkan dapat memberikan dampak signifikan dalam upaya perbaikan gizi dan prestasi akademik generasi muda.

Anak-anak dengan status gizi baik akan memiliki kemampuan kognitif yang lebih tinggi dan konsentrasi yang lebih kuat, sehingga MBG dapat berdampak positif pada performa akademik dan keterlibatan belajar yang sejalan dengan pembiasaan karakter "gemar belajar".

Melalui praktik makan bersih dan bertanggung jawab, anak-anak belajar nilai kebersamaan, empati, dan hidup bersih. Ini memperkuat aspek moral dan cinta tanah air (religius, disiplin, mandiri, bermoral). Adanya gerakan olahraga pagi, istirahat yang cukup, dan makan bergizi menjamin tumbuh kembang yang optimal, serta mengurangi risiko kesehatan seperti obesitas, anemia, atau gangguan mental.

Anak-anak yang sehat, cerdas, dan berkarakter akan menjadi fondasi penting menuju Indonesia Emas 2045 sebagai penggerak masa depan, pemimpin, inovator, wirausahawan, dan warga negara produktif yang akan membawa Indonesia sejajar dengan negara maju.

Pelaksanaan MBG dan Gerakan Karakter menghadapi berbagai tantangan dan sangat tergantung pada kapasitas daerah. Beberapa fakta menunjukkan bahwa desentralisasi MBG mengakibatkan kualitas pelaksanaannya bervariasi (ada sekolah yang berjalan lancar, ada yang mengalami kendala dalam distribusi, anggaran, atau logistik).

Umpan balik dari siswa mengenai program MBG menunjukkan adanya tantangan teknis, seperti waktu distribusi yang belum sesuai dengan jam pelajaran atau keterlambatan dalam pengiriman makanan.

Namun, ini merupakan kesempatan untuk mengevaluasi dan memperbaikinya, di antaranya adalah perlunya integrasi antar instansi pemerintah, keterlibatan swasta lokal sebagai mitra katering sehat, serta sistem pemantauan berbasis data agar kualitas dan karakter dapat berjalan seiring.

Rekomendasi yang dapat dilakukan adalah perlunya Standarisasi Pedoman MBG dan pembiasaan karakter dengan cara menyosialisasikan buku panduan Gerakan Karakter kepada semua mitra MBG. Standar kebersihan dan nutrisi harus dikomunikasikan bersamaan dengan nilai-nilai moral dan kebiasaan positif.

Dana operasional MBG perlu dialokasikan sebagian untuk kegiatan pembiasaan karakter, seperti senam pagi, lokakarya orang tua, lomba kreativitas kebiasaan seperti lagu/kajian lagu kebiasaan, dan lain-lain.

Rekomendasi selanjutnya adalah memanfaatkan media lokal dan digital untuk kampanye: video pendek tentang anak yang bangun pagi, berolahraga, makan bergizi, dan belajar, yang dapat diintegrasikan di dunia maya dan dalam lingkup masyarakat untuk memperkuat pilar media sebagai bagian dari Catur Pusat Pendidikan.

Selanjutnya, perlu dilakukan pemantauan riset dan evaluasi dengan membangun sistem pengukuran indikator gizi (stunting, anemia), kebiasaan anak (survei kebiasaan di sekolah/hari rumah), serta hasil belajar dan karakter. Kajian ilmiah lokal dan internasional harus diperkuat untuk membuktikan efektivitas program MBG sebagai pendidikan karakter.

Dari penjelasan di atas, maka sebaiknya Hari Anak Nasional 2025 dijadikan momentum untuk menyinergikan Program MBG dan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat demi memberikan jawaban strategis.

(Chairil Khalis)

Baca Juga: Siaga Bencana! BMKG Ingatkan Aceh, Sumut, Sumbar Hadapi Hujan Lebat
Tag

    Bagikan:

Berikan komentar
Komentar menjadi tanggung-jawab Anda sesuai UU ITE.