Strategi Komunikasi Baru Kemendes, Gandeng Kopassus Capai Desa Terpencil

Rabu, 24 Desember 2025

    Bagikan:
Penulis: Nirmala
Kemendes memandang perlu pendekatan non-tradisional melalui institusi militer untuk menjangkau masyarakat desa dan memastikan informasi program pemerintah sampai dengan baik. (dok. Kemendes)

JAKARTA - Tantangan komunikasi di wilayah terpencil mendorong Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) untuk merancang strategi baru. Menteri Yandri Susanto memilih untuk menggandeng Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD sebagai mitra dalam menyosialisasikan program 12 Aksi Bangun Desa, mengingat jaringan dan tingkat kepercayaan masyarakat yang tinggi terhadap korps elit ini.

Audiensi di Markas Kopassus menjadi landasan formal bagi strategi komunikasi unik ini. Menteri Yandri, didampingi sejumlah pejabat tinggi kementerian, menyampaikan bahwa kolaborasi ini diharapkan dapat mempercepat pencapaian salah satu agenda prioritas pemerintahan, yaitu Asta Cita ke-6 Presiden Prabowo Subianto tentang pembangunan dari desa.

“Kolaborasi dengan Kopassus, kami meyakini ini bisa mempercepat Asta Cita ke-6 Bapak Presiden,” ujar Yandri Susanto. Logika dasarnya adalah efisiensi dan efektivitas: menggunakan saluran yang sudah ada dan dipercaya untuk menyampaikan pesan-pesan pembangunan, ketimbang membangun saluran baru dari nol.

Baca Juga: Penguatan Sistem Pelayanan BP3MI Fokus Pada Koordinasi Dan Evaluasi Kinerja

Strategi ini tidak hanya bersifat top-down penyampaian informasi. Rencananya, Kemendes juga akan mengadopsi nilai-nilai kedisiplinan Kopassus untuk ditempatkan pada para pendamping desa. Pelatihan ala militer dirancang untuk menciptakan para komunikator lapangan yang lebih tangguh, disiplin, dan berintegritas.

“Mereka ini kan garda terdepan kami sebenarnya,” tandas Menteri Yandri mengenai peran vital pendamping desa. Dengan kapasitas yang ditingkatkan dan pembekalan karakter, diharapkan mereka dapat menjalankan fungsi sebagai fasilitator dan penghubung antara pemerintah dan masyarakat dengan lebih maksimal.

Menteri Yandri juga membagikan pembelajaran dari pengalaman sebelumnya, di mana pola komunikasi yang melibatkan unsur-unsur nasionalis dan kedekatan dengan masyarakat terbukti berhasil menciptakan tren percakapan positif organik, seperti saat penanganan bencana. Ia berharap kesuksesan serupa terulang untuk program pembangunan.

Dengan demikian, strategi ini memiliki dua lapisan: pertama, menggunakan Kopassus sebagai amplifier kredibel untuk pesan kebijakan; kedua, memperkuat kapasitas komunikator lapangan (pendamping desa) agar pesan tersebut dapat dielaborasi dan diimplementasikan dengan baik di tingkat komunitas.

Keberhasilan inisiatif ini akan diukur dari sejauh mana program-program pembangunan desa dipahami, diterima, dan dijalankan oleh masyarakat di daerah tertinggal. Kolaborasi sipil-militer ini menjadi terobosan yang menarik untuk mengatasi masalah klasik dalam pemerintahan: kesenjangan informasi dan implementasi kebijakan di tingkat akar rumput.

(Nirmala)

    Bagikan:
komentar