Badung - Maraknya konten di platform media sosial yang membandingkan keramaian pariwisata Bali dengan negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia mendapat tanggapan kritis dari pelaku industri. Wakil Ketua PHRI Badung, Komang Alit Ardana, menyatakan bahwa perbandingan semacam itu tidaklah adil dan cenderung menyesatkan.
Alit menekankan bahwa objek yang dibandingkan harus setara. Thailand, Malaysia, dan Singapura adalah negara berdaulat, sementara Bali adalah sebuah pulau yang merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. "Tidak fair kalau Pulau Bali disandingkan dengan negara. ... Kalau mau disandingkan, ya Indonesia dong dilawan," ujarnya dengan tegas.
Kritik ini dilontarkan untuk memberikan perspektif yang lebih objektif dalam menilai kinerja pariwisata. Perbandingan yang tidak setara, menurut Alit, berpotensi menciptakan narasi negatif yang tidak berdasar dan dapat merugikan citra Bali sebagai destinasi wisata kelas dunia.
Baca Juga: Pengaruh Konflik Kamboja-Thailand Terhadap Arus Wisatawan Regional Ke Angkor Wat
Di sisi lain, Alit tetap membuka pembicaraan mengenai tantangan yang dihadapi Bali. Ia mengakui bahwa jumlah kunjungan wisatawan tahun ini secara umum lebih rendah, dan menyebut faktor cuaca ekstrem sebagai salah satu kendala signifikan yang mempengaruhi minat berwisata secara global.
Namun, ia mengimbangi pengakuannya dengan menyoroti kekuatan pasar domestik. Pola tahunan di mana wisatawan domestik menggantikan posisi wisatawan mancanegara di bulan Desember kembali terjadi. Tanda-tandanya jelas terlihat dari membludaknya kendaraan luar Bali dan proyeksi okupansi hotel yang akan penuh.
Terlepas dari segala perdebatan perbandingan, Alit kembali menegaskan komitmen dan keyakinannya terhadap Bali. Pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa Bali tetap merupakan destinasi yang sangat aman, nyaman, dan layak untuk dikunjungi oleh siapa pun.
Ia pun mengajak semua pihak, mulai dari pemerintah, pelaku usaha, hingga masyarakat biasa, untuk bergotong-royong. Upaya kolektif dalam mempromosikan keunikan dan keindahan Bali dinilainya lebih produktif daripada terjerat dalam perbandingan yang tidak konstruktif.
Pada akhirnya, fokus harus kembali pada upaya membangun dan memulihkan pariwisata yang berkelanjutan. Dengan fondasi pasar domestik yang kuat dan pemahaman akan dinamika pasar internasional, Bali diharapkan dapat terus bertahan dan berkembang di tengah persaingan global.