Peserta Co-Ops PT Vale Ungkap Pengalaman Transformasional Di Dunia Kerja

Jumat, 19 Desember 2025

    Bagikan:
Penulis: Nirmala
Peserta seperti Muhammad Akbar dan Dewi Erika mengaku program ini membuka perspektif baru tentang dunia kerja, terutama mengenai budaya keselamatan, tanggung jawab, dan penerapan ilmu secara langsung. (Foto/IST)

Makassar - Bagi Muhammad Akbar, mahasiswa asal Wasuponda, Luwu Timur, mengikuti Program Cooperative Education (Co-Ops) PT Vale bukan sekadar memenuhi syarat kurikulum. Program enam bulan ini menjadi pengalaman transformasional yang secara drastis mengubah pandangannya tentang makna bekerja di industri besar. Ia mengungkapkan, hal yang paling berkesan adalah penanaman budaya keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang sangat ketat dan menjadi prioritas mutlak, sesuatu yang sebelumnya hanya ia pahami sebagai teori di buku teks.

Pengakuan serupa disampaikan Dewi Erika Yuliana, mahasiswi Jurusan Kimia Universitas Hasanuddin. Baginya, Co-Ops berperan sebagai jembatan penghubung yang sangat efektif antara ranah akademis yang teoritis dengan dinamika riil di lapangan industri. Ia merasakan langsung bagaimana ilmu kimia yang dipelajarinya diaplikasikan dalam proses-proses operasional yang kompleks, memberikan konteks dan pemahaman yang jauh lebih kaya dibandingkan sekadar simulasi di laboratorium kampus. Pengalaman ini membangun kepercayaan dirinya untuk terjun ke dunia kerja.

Kedua peserta tersebut merupakan bagian dari 16 mahasiswa terpilih yang berhasil melewati seleksi ketat dari 48 kandidat awal. Program kolaborasi antara PT Vale dan Unhas ini sengaja dirancang dengan durasi panjang untuk memastikan internalisasi nilai-nilai profesional tidak terjadi secara terburu-buru. Selama enam bulan, mereka tidak hanya menjadi pengamat, tetapi terjun langsung menjalankan tugas-tugas yang bermakna di bawah bimbingan mentor dari kalangan profesional PT Vale, sehingga mengalami ritme kerja yang sesungguhnya.

Baca Juga: Penguatan Sistem Pelayanan BP3MI Fokus Pada Koordinasi Dan Evaluasi Kinerja

Muhammad Akbar juga menyoroti nilai tambah emosional dari program ini. Karena PT Vale beroperasi di daerah asalnya, ia merasa memiliki ikatan dan motivasi khusus untuk belajar dan kelak berkontribusi bagi kemajuan wilayah Luwu Timur. Ia melihat program Co-Ops sebagai sebuah kesempatan emas untuk memahami sekaligus mempersiapkan diri menjadi bagian dari pembangunan daerahnya sendiri melalui sektor industri yang berkelas dunia.

Sementara Dewi Erika menekankan pada aspek pembentukan disiplin dan tanggung jawab profesional. Di lingkungan kerja PT Vale, ia belajar bahwa setiap tindakan dan keputusan harus didasarkan pada prosedur yang jelas dan pertimbangan risiko. Lingkungan yang menuntut akurasi dan akuntabilitas tinggi ini melatihnya untuk berpikir kritis, teliti, dan komunikatif—keterampilan yang sangat berharga untuk karier masa depannya di bidang teknik kimia.

Testimoni positif dari para peserta ini menjadi validasi atas efektivitas model Cooperative Education yang diterapkan PT Vale. Program ini berhasil menciptakan ruang transisi yang ideal, di mana mahasiswa dapat membuat kesalahan, belajar, dan tumbuh dalam lingkungan yang terkendali namun autentik sebelum benar-benar memasuki pasar kerja. Proses ini secara signifikan mengurangi "gegar budaya" yang kerap dialami fresh graduate.

Kesuksesan peserta juga tidak lepas dari kerangka ekosistem pengembangan talenta yang telah dibangun PT Vale di Sulawesi Selatan. Keberadaan institusi vokasi seperti Politeknik Sorowako (Poliwako) telah menciptakan dasar keterampilan teknis bagi pemuda lokal, yang kemudian dapat disempurnakan melalui program imersif seperti Co-Ops. Sinergi antara pendidikan vokasi dan pelatihan langsung di industri ini menciptakan pipeline talenta yang solid.

Melalui pengalaman nyata para peserta seperti Akbar dan Dewi, Program Co-Ops PT Vale membuktikan dirinya lebih dari sekadar program magang. Ini adalah katalis untuk transformasi personal dan profesional, menyiapkan generasi muda Indonesia tidak hanya dengan keterampilan teknis, tetapi juga dengan mindset, etos kerja, dan rasa tanggung jawab yang dibutuhkan untuk bersaing dan berkontribusi di kancah global, sekaligus membangun daerah asal mereka.

(Nirmala)

    Bagikan:
komentar